#

Self-Harm, Bukan Sekedar Menyakiti Diri

#admin 05 July 2023

Ditulis oleh : Farica Tanojo, S.Psi., Psikolog

Pernahkah Anda mendengar bahwa sekitar 17% orang melakukan self-harm dalam hidupnya, 45% orang menggunakan cutting sebagai cara melukai diri, serta sekitar 50% orang mencari bantuan terkait self-harm bukan kepada tenaga ahli? Hal-hal tersebut merupakan fakta dari adanya fenomena self-harm di dunia. Self-harm merupakan berbagai bentuk perilaku seseorang yang menyebabkan bahaya atau luka kepada dirinya. Bentuk yang paling umum dilakukan seperti memotong (cutting) pergelangan tangan, membakar, membenturkan kepala, menggigit, dan mencabut luka. Self-harm dilakukan sebagai cara untuk mengatasi pikiran dan perasaan yang menyulitkan. Biasanya, orang yang melakukan self-harm tidak memiliki tujuan untuk bunuh diri. Meskipun berbeda dengan percobaan bunuh diri, self-harm dapat meningkatkan risiko kematian dan keinginan untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghadapi berbagai masalah. Ketika seseorang tidak mampu untuk mengungkapkan emosi dan membicarakan penyebab stres, maka hal itu bisa bertumpuk serta menjadi tak tertahankan. Kondisi ini membuat sebagian orang menggunakan tubuhnya untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan yang tidak mampu ia ungkapkan, sehingga melukai dirinya saat merasa tidak tahan. Setelah melukai diri, akan muncul perasaan lega sesaat dari rasa sakit yang dialaminya. Selanjutnya muncul perasaan bersalah dan malu pada orang tersebut, yang kemudian membuat dirinya kerap mengulangi perilaku self-harm untuk menangani perasaan negatif. Maka dari itu, self-harm menjadi cara normal bagi seseorang dalam menghadapi permasalahan hidup.

Tujuan seseorang melakukan self-harm umumnya untuk keluar dari perasaan negatif, mengatasi stress, mengekspresikan perasaan negatif, menghukum dirinya sendiri, serta merasakan euforia. Beberapa contoh pemicu seseorang melakukan self-harm antara lain bullying, tekanan dari keluarga atau sekolah, depresi, kecemasan, diskriminasi, trauma dan kepercayaan diri rendah. Berbagai mitos atau kesalahpahaman terkait self-harm berkembang luas di tengah masyarakat. Kesalahpahaman tersebut dapat menjadi hambatan bagi seseorang untuk mengungkapkan masalah dan mencari bantuan. Berikut ini beberapa contoh mitos dari fenomena self-harm:

  1. Sebagai cara untuk mencari perhatian: padahal banyak orang yang melakukan self-harm tidak membicarakan hal tersebut, serta terasa sulit bagi mereka untuk mengumpulkan keberanian mencari pertolongan. Mereka cenderung merasa malu dan ingin menyembunyikan perilaku tersebut.
  2. Anak muda melakukannya agar diterima teman: self-harm muncul sebagai reaksi atas ketidak cocokan dengan teman, sehingga membantu mereka menghadapi masalah dan mengelola emosi yang tidak menyenangkan.
  3. Orang yang melakukan pasti menikmatinya: tidak ada bukti terkait orang yang melakukan self-harm merasakan sakit secara berbeda dari orang lainnya. Mengalami depresi dapat membuat seseorang mati rasa, sehingga ingin melakukan apapun agar merasa hidup, meskipun menyebabkan rasa sakit. Orang lain juga mendeskripsikan rasa sakit dari self-harm sebagai hukuman.
  4. Cenderung ingin bunuh diri: sebagian besar orang menganggap melakukan self-harm sebagai cara mengatasi perasaan dan keadaan yang sulit. Beberapa orang juga menyebutkan sebagai cara bertahan hidup saat menghadapi masalah.
  5. Seseorang bisa langsung berhenti melakukannya, jika ia mau: self-harm merupakan masalah kompleks yang dapat terbentuk menjadi kebiasaan. Maka dari itu, hanya meminta seseorang untuk berhenti melakukan tidak dapat membantu dengan efektif.

Terdapat beberapa tanda dari adanya perilaku self-harm pada seseorang, yaitu adanya luka atau memar yang tidak dapat dijelaskan pada bagian tubuh, selalu memakai pakaian tertutup atau kebesaran untuk menutupi luka, menghindari situasi sosial, mengurung diri di dalam kamar, serta menunjukkan tanda-tanda depresi. Perlu diingat bahwa self-harm dapat terjadi kepada siapa saja, tanpa memandang usia maupun jenis kelamin. Maka dari itu, penting bagi kita untuk lebih menyadari tanda-tanda self-harm di sekitar kita. Kalau kamu atau orang di sekitar menunjukkan adanya tanda-tanda yang mengarah pada perilaku self-harm, lebih baik segera mencari bantuan ke tenaga profesional ya. Dengan demikian, bantuan dan dukungan yang tepat dapat diberikan untuk mengakhiri siklus self-harm.