Self-Harm, Bukan Sekedar Menyakiti Diri
- 05 July 2023
Oleh: Khadijah Auliaur Rohmaani, S.Psi., M.Psi., Psikolog
Kita pasti sudah mengalami berbagai peristiwa dalam kehidupan. Salah satu peristiwa yang mungkin pernah kita alami adalah peristiwa traumatis. Suatu peristiwa dapat dianggap sebagai peristiwa traumatis ketika memiliki tiga ciri utama, yaitu (1) ketidakmampuan kita dalam mengontrol peristiwa tersebut terjadi; (2) persepsi kita bahwa peristiwa tersebut adalah pengalaman yang sangat negatif (membahayakan atau mengancam secara fisik maupun emosional); dan (3) perstiwa tersebut terjadi dengan sangat tiba-tiba. Gejala-gejala trauma dapat muncul ketika kita merasa tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengontrol peristiwa tersebut jika terdapat kemungkinan terjadi lagi. Perasaan sangat negatif yang muncul dari pengalaman traumatis tersebut juga meningkatkan perasaan tidak berdaya pada diri kita dan ketakutan yang luar biasa untuk bertahan hidup (survive) secara fisik maupun psikologis.
Tidak semua individu memunculkan gejala-gejala trauma dan berkembang menjadi gangguan stres pasca-trauma (Post-Traumatic Stress Disorder; PTSD) meskipun pernah mengalami peristiwa traumatis. Respon kita terhadap pengalaman traumatis sangat dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu (1) faktor biologis; (2) kematangan emosional pada saat pertistiwa traumatis terjadi; (3) tingkat keparahan stres akibat peristiwa traumatis; (4) konteks sosial sebelum dan setelah peristiwa traumatis, dan (5) peristiwa kehidupan lain yang dialami sebelum maupun sesudah peristiwa traumatis. Gabungan dari kelima faktor tersebut membuat kita memiliki persepsi, pemahaman, dan tingkat ambang batas yang berbeda dalam merespon trauma.
Respon utama yang muncul setelah individu mendapatkan pengalaman traumatis adalah gejala mengalami kembali dan penghindaran yang terus-menerus melalui pikiran, perasaan, perilaku, atau kondisi fisik. Gejala mengalami kembali peristiwa traumatis dapat muncul dengan adanya pikiran-pikiran yang mengganggu, kecemasan, perasaan marah, gelisah/ingin terus bergerak, perilaku agresif, reaktivitas fisik pada hal-hal yang mengingatkan peristiwa traumatis, kilas balik (flashback), dan mimpi buruk. Gejala penghindaran dapat muncul dengan adanya amnesia/sulit mengingat peristiwa traumatis, perasaan terpisah dari realita/tubuh, mati rasa secara emosional,
sulit merasakan emosi tertentu, menghindar secara refleks pada situasi yang mengingatkan peristiwa traumatis, mudah terkejut, mati rasa secara fisik, atau gabungan dari berbagai gejala penghindaran yang sulit didefinisikan. Gejala-gejala trauma yang muncul dapat bervariasi dan tidak semua gejala khusus harus muncul setelah kita mengalami pengalaman traumatis. Gejala- gejala trauma tersebut tidak selalu langsung muncul dan bisa bertahan mingguan, bulanan, bahkan tahunan setelah pengalaman traumatis terjadi.
Respon sekunder yang dapat muncul setelah individu mengalami peristiwa traumatis adalah gejala depresi, agresivitas yang meningkat, penyalahgunaan NAPZA, muncul penyakit-penyakit fisik, self-esteem yang rendah, kebingungan identitas, kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal, dan perasaan bersalah serta malu.
Lalu, apa yang perlu kita lakukan ketika mengalami peristiwa traumatis dan mulai muncul gejala- gejala trauma?
Reaksi fisiologis atau kondisi tubuh kita setelah terjadinya pengalaman traumatis umumnya terasa tidak nyaman atau terjadi hyperarousal. Oleh sebab itu, kita perlu menyeimbangkan kembali reaksi fisiologis kita menjadi lebih tenang dengan latihan relaksasi mulai dari pernapasan, cara kita berbicara, dan bergerak. Contohnya, kita dapat latihan pernapasan sadar, latihan yoga, dan mencoba melakukan meditasi.
Kesadaran diri adalah inti dari proses pemulihan trauma. Kita perlu menyadari apa yang sedang terjadi pada tubuh, pikiran, dan perasaan kita. Ketika kita sudah sadar tentang yang kita alami, mengenali perasaan tidak nyaman yang sedang kita hadapi, kita akan lebih mudah menerima dan mengubah persepsi tentang kondisi yang sedang kita alami. Contohnya, ketika kita menyadari bahwa kita selalu melihat ke arah pintu dan memastikan pintu sudah terkunci setiap ada suara berisik di luar pintu, kita akan lebih cepat menerima bahwa kita sedang merasa cemas dan mulai dapat mengubah respon tubuh kita yang ketakutan karena sadar bahwa pintu sudah terkunci dan kita berada di tempat aman.
Memiliki orang yang dapat dipercaya atau tempat yang dapat dituju ketika merasa cemas dan takut dapat meminimalisir gejala-gejala trauma yang muncul. Kita perlu meyakinkan pikiran, perasaan, dan tubuh kita bahwa kita memiliki tempat aman. Ketika kita perasaan aman tersebut tumbuh maka kita akan lebih mudah menghadapi pengalaman traumatis yang terjadi dan mengurangi gejala-gejala trauma yang kita alami.
Ketika kita merasa pengalaman traumatis yang kita alami terus menghantui dan gejala- gejala trauma yang kita alami terus-menerus muncul maka kita perlu mencari pertolongan profesional untuk memproses peristiwa traumatis dan reaksi tubuh dari pengalaman traumatis tersebut. Profesional seperti psikiter atau psikolog dapat membantu kita mencari akar masalah dari pengalaman traumatis yang pernah kita alami, mengajarkan penerimaan terhadap diri dan pengalaman yang terjadi, dan membimbing kita menemukan solusi paling tepat sesuai dengan kebutuhan kita.
Jika kamu bingung atau butuh bantuan dalam mengatasi masalahmu yuk jadwalkan sekarang konsultasi dengan psikolog profesional kami, kamu bisa menghubungi bagikanceritamu.com